Senin, 26 September 2011

ULKUS DIABETIKA

PENDAHULUAN
Diabetes mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang oleh karena gangguan keseimbangan karbohidrat,lemak dan protein yang disebabkan kekurangan insulin secara absolute maupun relative. Sehingga menyebabkan terjadinya hiperglikemia dan glukosuria. Pada keadaan normal glukosa diatur sedemikian rupa oleh insulin yang diproduksi oleh sel ß pancreas. Sehingga kadarnya dalam darah selalu keadaan normal. Baik keadaan puasa maupun sesudah makan, kadar gula darah selalu stabil sekitar 70 sampai 110 mg %. Pada keadaan diabetes mellitus tubuh relative kekurangan sekresi insulin maupun aktivitas insulin akibatnya pengaturan gula darah menjadi meningkat. Walaupun kadar gula darah selalu tinggi, terjadi juga pemecahan lemak dan protein menjadi gula (glukoneogenesis) di hati yang tidak dapat dihambat karena insulin sekresinya relative berkurang sehingga gula darah semakin meningkat. Akibatnya terjadi gejala-gejala diabetes mellitus yaitu poliuri, polifagi, polidipsi, lemas, berat badan menurun. Bila dibiarkan berlarut-larut berakibat kegawatan diabetes mellitus berupa ketoasidosis yang sering menimbulkan kematian.1
Kasus diabetes mellitus yang terbanyak adalah DM type II yang mempunyai latar belakang berupa resistensi insulin akibat gangguan uptake glukosa di perifer, dan penurunan mass sel ß pancreas dimana sekresi serta aktivitas insulin berkurang.1
Pada DM type I mempunyai latar belakang kelainan berupa kurangnya insulin secara absolute akibat interaksi faktor genetik dan “environment” (virus, toksin, infeksi). Terjadinya proses autoimun dan adanya antibody terhadap insulin yaitu HLA yang menyebabkan kehancuran sel ß pancreas.1
Pasien DM mempunyai resiko untuk terjadinya komplikasi khronik yaitu : Penyakit jantung koroner dan penyakit pembuluh darah otak 2 kali lebih besar, 50 kali lebih mudah menderita ulkus/gangrene, 7 kali lebih mudah mengidap gagal ginjal terminal dan 25 kali lebih cenderung mengalami kebutaan akibat kerusakan retina daripada pasien non DM.2
GANGRENE DIABETIK
Gangrene diabetik adalah gangrene yang dijumpai pada penderita DM. Sedangkan gangrene sendiri adalah kematian jaringan oleh karena obstruksi pembuluh darah yang memberikan makanan kepada jaringan tersebut. Gangren salah satu bentuk komplikasi dari penyakit DM.1
Diabetes mellitus adalah suatu penyakit metabolisme memerlukan perawatan seumur hidup. Perawatan terhadap penderita memerlukan kerja sama antara dokter, penderita dan keluarga penderita.1
Gangrene diabetik ini dapat terjadi pada setiap bagian tubuh yang terendah diujung terutama pada ekstremitas bawah.1
PATOFISIOLOGI
Diabetes mellitus dalam waktu yang lanjut akan menyebabkan komplikasi angiopathy dan neuropathy. Kedua hal ini merupakan penyebab dasar terjadinya gangrene.1
ANGIOPATHY
Terjadinya angiopathy diabetik dipengaruhi oleh factor genetik, faktor metabolik, dan faktor penunjang lain seperti kebiasaan merokok, hipertensi, dan keseimbangan insulin.3
Faktor genetik seperti tipe HLA tertentu pada penderita diabetes, walaupun dengan kadar gula darah rendah, sudah cukup untuk menimbulkan mikroangiopathy diabetik yang luas serta memacu timbulnya mikrotrombus yang akhirnya menyumbat pembuluh darah 3
Faktor metabolik yang berpengaruh adalah regulasi diabetes mellitus, dislipidemia, dan glikogenesis dari protein. Khusus untuk dislipidemia terdapat peningkatan factor aterogenik berupa kolesterol LDL. Komponen lemak ini memegang peran utama dalam patogenesis angiopathy diabetik.3
Secara umum angiopathy dapat dibagi dalam dua jenis yaitu makroangiopathy dan mikroangiopathy.
Makroangiopathy
Makroangiopathy bukanlah hanya melibatkan pembuluh darah besar saja, tapi juga melibatkan pembuluh darah kecil.4
Langkah pertama untuk terjadinya makroangiopathy adalah rusaknya sel endotel oleh karena pengaruh lemak atau oleh karena pengaruh tekanan darah. Keadaan ini diikuti oleh melekatnya dan berkumpulnya sel-sel platelet. Kejadian ini berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan non diabetes.
Platelet ini mempunyai pengaruh stimulasi terhadap proliferasi otot polos. Sel otot dari tunika media akan berproliferasi kedalam tunika intima dan kedalam lumen dari pembuluh. “Clot” ataupun “plaque” yang terbentuk akan terdiri dari deposit-deposit lemak, platelets, dan sel otot 4
Prostaglandin juga memegang peranan penting dalam peristiwa terjadinya ischemia dan pembentukan thrombus. Prostaglandin  G2 dibentuk dari asam arakidonat yang kemudian akan dikonversi menjadi tromboxane A2 dan Prostacyclin. Tromboxane A2 dibentuk diplatelets dan menyebabkan peningkatan aggregasi platelet dan vasokontriksi. Kerusakan endothelium akan menyebabkan terganggunya sintesis lokal prostacyclin. Kejadian ini menyebabkan meningkatnya deposit platelet yang diikuti pembentukan tromboxane A2 yang meningkat, dan lebih jauh akan meninggikan kemampuan aggregasi platelet, vasokontriksi lokal dan akhirnya menyebabkan terjadinya iskemi.4
Mikroangiopathy
Lesi yang terutama pada angiopathy dan merupakan tanda dari diabetik “vascular disease” adalah penebalan dari membrana basalis capiler. Penebalan ini semakin nyata bila perjalanan penyakit diabetes semakin lama, dan mungkin ada hubungan dengan tingkat kontrol terhadap gula darah, walaupun pernyataan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Sebagian besar pembuluh darah mengalami penebalan membrana basalis. Patologi yang pasti tentang terjadinya penebalan membrana basalis ini belum diketahui. Tetapi telah dapat ditunjukkan bahwa membrana basalis yang menebal ini permeabilitasnya meningkat terhadap cairan dan protein. Hal ini akan menghalangi masuknya leukosit lebih jauh ke dalam cairan interstitial dan akan menyebabkan menurunnya pertahanan terhadap infeksi bakteri.4
Williamson menyatakan bahwa hanya satu mekanisme untuk terjadinya angiopathy, baik makroangiopathy ataupun mikroangiopathy, yaitu meningkatnya permeabilitas membran dari pembuluh darah besar dan pembuluh darah kecil.5
Forsham menyatakan bahwa akibat langsung dari hiperglikemia yang berlama-lama akan mengakibatkan terjadinya penebalan pada membrana basalis pada otot-otot kapiler baik pada skeletal maupun pada “coronary capiler”.6

MANIFESTASI KLINIK

Gangrene diabetik akibat mikroangiopathy disebut juga gangrene panas karena walaupun nekrosis, daerah akral itu tampak merah dan terasa hangat oleh peradangan, dan biasanya teraba pulsasi arteri di bagian distal. Biasanya terdapat ulkus diabetik pada telapak kaki.3
Proses makroangiopathy menyebabkan sumbatan pembuluh darah, sedang secara akut emboli akan memberikan gejala klinik 5 P(bagan 1). Dan bila terjadi sumbatan khronik, akan timbul gambaran klinik menurut pola dari Fontaine(bagan 2).3
Menurut berat ringannya lesi, kelainan kaki diabetik dibagi dalam enam derajat menurut Wagner. Pada derajat 0 kulit utuh, tetapi ada kelainan bentuk kaki akibat neuropati. Pada derajat 1 terdapat tukak superficial, derajat 2 tukak lebih dalam, dan derajat 3 tukak dalam disertai abses dengan kemungkinan selulitis dan/atau osteomielitis. Pada derajat 4 terjadi gangren jari dan derajat 5 gangren kaki.3
Berdasarkan jenis gangrennya gejala-gejala ini dibedakan:
Pada gangren kering akan dijumpai adanya gejala permulaan berupa:
  • Sakit pada daerah yang bersangkutan
  • Daerah menjadi pucat, kebiruan dan bebercak ungu
  • Lama –kelamaan daerah tersebut berwarna hitam
  • Tidak teraba denyut nadi (tidak selalu)
  • Bila diraba terasa kering dan dingin
  • Pinggirnya berbatas tegas
Dan akhirnya perasaan nyeri/sakit lambat laun berkurang dan akhirnya menghilang.7,8 Gangren kering ini bisa lepas sendiri dari jaringan yang utuh.
Pada gangren basah akan dijumpai tanda sebagai berikut:
  • Bengkak pada daerah lesi
  • Terjadi perubahan warna dari merah tua menjadi hijau yang akhirnya kehitaman
  • Dingin
  • Basah
  • Lunak
  • Ada jaringan nekrose yang berbau busuk8, tapi bisa juga tanpa bau sama sekali.9
Bagan 1: 5P 3
1. “Pain”                 =  nyeri 2. “Paleness”          =   kepucatan
3. “Paresthesia”      =  kesemutan
4. “Pulselessness”  =  denyut nadi hilang
5. “Paralisis”          =  lumpuh
kadang ditambah P ke 6 yaitu “prostration” = kelesuan
Bagan 2: Stadia menurut Fontaine 3
Stadium Tanda dan gejala
I II
III
IV
Asiptomatik atau gejala tidak khas (kesemutan,geringgingan) Klaudikasio intermiten (shg jarak tempuh pendek)
Nyeri saat istirahat
Manifestasi kerusakan jaringan karena anoksia (sekresi,ulkus)
Bagan 3: Derajat kelainan kaki diabetes (Wagner) 3
Derajat Sifat

Luka/tukak           abses            selulitis            osteomielitis            gangrene
0 I
II
III
IV
V
-                               -                  -                            -                              - superficial                -                  -                            -                              -
dalam sampai           -                  -                            -                              -
tendon/tulang
dalam                       +                 +/-                         +/-                           -
dalam                       +/-               +/-                         +/-                          jari
gangrene                                                                                          seluruh kaki
DIAGNOSA 1
Diagnosa gangrene diabetik ditegakkan dengan cara :
  • Anamnesis/gejala klinik
  • Pemeriksaan “physis diagnostic”
  • Pemeriksaan laboratorium
DIAGNOSA BANDING
Diagnosa banding dari suatu gangrene diabetik adalah gangrene yang disebabkan oleh “arteriosclerosis obliterans” pada penderita non diabetes.
Pada gangrene non-diabetes dijumpai tanda sebagai berikut:
  • “Cludicatio intermittent”, yaitu rasa sakit yang timbul, biasanya pada telapak kaki setelah berjalan beberapa saat dan segera hilang bila istirahat.
  • Hilangnya denyut nadi
  • Kaki terasa dingin
  • Bila aliran darah tersumbat total, tidak menyebabkan tulang-tulang segera menjadi buruk 10
Pada gangrene diabetik, bila aliran darah tersumbat total maka tulang akan mengalami osteomyelitis, selain itu pada gangrene diabetik, “claudicatio intermittent” juga timbul pada waktu istirahat, baik siang atau malam hari, disertai perasaan terbakar, kebas dan dingin.10
Salah satu diagnosa banding dari ulkus diabetik adalah ulkus tropikum, sebab ulkus ini biasanya terdapat pada daerah yang terbuka terutama daerah tungkai yang bentuknya bulat,bergaung,kotor dan dikelilingi tanda radang. Biasanya tukak ini disertai demam dan limfadenitis.Tukak ini biasanya sembuh sepontan tanpa nyeri lagi dengan menyisakan ulkus yang indolen.3

PENATALAKSANAAN

Pengobatan dari gangrene kering :
  • Istirahat ditempat tidur
  • Kontrol kadar gula darah dengan diet, insulin, atau obat anti diabetic
  • Tindakan amputasi untuk mencegah meluasnya gangrene,11 tetapi harus dengan indikasi yang sangat jelas.
  • Perbaiki sirkulasi guna mengatasi/mencegah angiopati dengan pemberian  obat-obatan anti platelet agregasi seperti aspirin, dipyridamol12 atau pentoxyvillin.13
Pengobatan terhadap gangrene basah :
  • Istirahat ditempat tidur
  • Kontrol kadar gula dengan diet, insulin atau oral anti diabetik.
  • Debridement
  • Kompres/rendam dengan iar hangat, jangan dengan air panas atau dingin.
  • Beri “topical antibiotic”
  • Beri antibiotik sistemik yang sesuai kultur11 atau dengan antibiotik spektrum luas.
  • Untuk neuropati berikan pyridoxine (vit.B6)14 atau neurotropik lain
  • Untuk mencegah angiopati dapat diberi obat antiplatelet aggregasi seperti aspirin,dipiridamol atau pentoxyvillin.
Tindakan pembedahan
Tindakan pembedahan ini bisa berupa :
  • Amputasi segera
  • Debridement dan “drainage”, setelah tenang maka tindakan yang diambil mungkin:
-          Amputasi selektif
-          “Skin/arterial graft” 8
Indikasi Amputasi :1
  • Febris terus menerus
  • Regulasi diabetes mellitus sulit dicapai(kadar gula darah > 300 mg%)
  • Osteomyelitis pada gambaran radiologi
  • Selulitis cenderung keatas
  • Infeksi pada gangren yang menyebabkan keadaan umum semakin memburuk
  • Faal ginjal semakin menurun.
DIET PADA DM 15
Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal.
Komposisi energi :
-           60 – 70 % dari karbohidrat
-           10 – 15 % dari protein
-           20 – 25 % dari lemak
Beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan orang yang diabetes
1.    Memperhitungkan berdasarkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25 – 30 kalori/kgBB ideal, ditambah dan dikurangi bergantung pada beberapa faktor yaitu jenis kelamin, umur, aktivitas, kehamilan/laktasi, adanya komplikasi dan berat badan.
2.
Dewasa Kalori/kgBB Ideal
Kerja santai Sedang Berat
Gemuk Normal
Kurus
25 30
35
30 35
40
35 40
40 – 50
3.    Dengan pegangan kasar yaitu :
-    Kurus              :           2300 – 2500 kalori
-    Normal            :           1700 – 2100 kalori
-    Gemuk                        :           1300 – 1500 kalori
Menghitung kebutuhan kalori
Perhitungan menurut Brocca :
BBI = 90 % x (TB dalam cm – 100) x 1 kg
Untuk laki – laki TB < 160 cm atau wanita TB < 150 cm, rumusnya :
BBI = (TB dalam cm – 100) x 1 kg
Jumlah kalori yang diperlukan dihitung dari BB Idaman dikalikan kebutuhan kalori basal (30 kal/kgBB untuk laki – laki dan 25 kal/kg BB untuk wanita), tetapi ditambah kalori berdasarkan presentasi kalori basal.
-           Kerja ringan, ditambah 10 % dari kalori basal
-           Kerja sedang, ditambah 20 % dari kalori basal
-           Kerja berat, ditambah 40 – 100 % dari kalori basal
-          Pasien kurus, masih tumbuh – kembang, terdapat infeksi, sedang hamil atau menyusui, ditambah 20 – 30 % dari kalori basal.
Faktor – faktor yang menentukan kebutuhan kalori :
1.    Jenis kelamin
2.    Umur
3.    Aktivitas fisik dan pekerjaan
4.    Kehamilan infeksi
5.    Adanya komplikasi
6.    Berat badan
OBAT ANTI DIABETIK 15
Dalam praktek telah dikenal 2 jenis obat anti diabetik :
  1. Obat hipoglikemik oral (OHD)
  2. Insulin
Obat hipoglikemik oral (OHD), terdiri dari :
1.    Sulfinil Urea
Obat golongan ini berkerja dengan cara :
-          Menstimulasi penglepasan insulin yang tersimpan
-          Menurunkan ambang sekresi insulin
-          Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukagon
Obat golongan ini biasanya diberikan pada pasien yang beratnya normal dan masih dapat dipakai pada pasien yang beratnya sedikit lebih.
2.    Biguanid
Biguanid menurunkan kadar gula darah tapi tidak sampai dibawah normal, obat inidianjurkan pada pasien yang gemuk ( IMT > 30) sebagai obat tunggal dan pada dengan berat lebih dapat dikombinasi dengan golongan Sulfonil urea
3.    Inhibitor α glukosida
Obat golongan ini bekerja secara kompektif menghambat kerja enzim α glukosida di dalam saluran cerna sehingga menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemik pasca prandial
4.    “Insulin sensitizing agent”
Golongan obat baru yang mempunyai efek farmakologis meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga bisa mengatasi masalah resistensi insulin dalam berbagai masalah akibat resistensi insulin tanpa menyebabkan hipoglikemia
INSULIN15
Indikasi pengobatan dengan insulin
  1. Ketoasidosis, koma hiperosmolar dan asidosis laktat
  2. DM dengan berat badan menurun secara cepat/kurus
  3. DM yang mengalami stress berat ( infeksi sistemik, operasi berat, dll)
  4. DM dengan kehamilan
  5. DM tipe 1
  6. Kegagalan pemakaian hipoglikemik oral (OHD)
KOMPLIKASI
  • Osteomyelitis
  • Sepsis
  • Kematian

Konsep Dasar Nyeri

Pengertian nyeri
Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan
Fisiologi nyeri
Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer.
Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam beberapa bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda.
Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri yang berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan. Reseptor jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua komponen yaitu :
a. Reseptor A delta
Merupakan serabut komponen cepat (kecepatan tranmisi 6-30 m/det) yang memungkinkan timbulnya nyeri tajam yang akan cepat hilang apabila penyebab nyeri dihilangkan
b. Serabut C
Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan tranmisi 0,5 m/det) yang terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri biasanya bersifat tumpul dan sulit dilokalisasi
Struktur reseptor nyeri somatik dalam meliputi reseptor nyeri yang terdapat pada tulang, pembuluh darah, syaraf, otot, dan jaringan penyangga lainnya. Karena struktur reseptornya komplek, nyeri yang timbul merupakan nyeri yang tumpul dan sulit dilokalisasi.
Reseptor nyeri jenis ketiga adalah reseptor viseral, reseptor ini meliputi organ-organ viseral seperti jantung, hati, usus, ginjal dan sebagainya. Nyeri yang timbul pada reseptor ini biasanya tidak sensitif terhadap pemotongan organ, tetapi sangat sensitif terhadap penekanan, iskemia dan inflamasi.
Teori Pengontrolan nyeri (Gate control theory)
Terdapat berbagai teori yang berusaha menggambarkan bagaimana nosireseptor dapat menghasilkan rangsang nyeri. Sampai saat ini dikenal berbagai teori yang mencoba menjelaskan bagaimana nyeri dapat timbul, namun teori gerbang kendali nyeri dianggap paling relevan (Tamsuri, 2007)
Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965) mengusulkan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat sebuah pertahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan dasar teori menghilangkan nyeri.
Suatu keseimbangan aktivitas dari neuron sensori dan serabut kontrol desenden dari otak mengatur proses pertahanan. Neuron delta-A dan C melepaskan substansi C melepaskan substansi P untuk mentranmisi impuls melalui mekanisme pertahanan. Selain itu, terdapat mekanoreseptor, neuron beta-A yang lebih tebal, yang lebih cepat yang melepaskan neurotransmiter penghambat. Apabila masukan yang dominan berasal dari serabut beta-A, maka akan menutup mekanisme pertahanan. Diyakini mekanisme penutupan ini dapat terlihat saat seorang perawat menggosok punggung klien dengan lembut. Pesan yang dihasilkan akan menstimulasi mekanoreseptor, apabila masukan yang dominan berasal dari serabut delta A dan serabut C, maka akan membuka pertahanan tersebut dan klien mempersepsikan sensasi nyeri. Bahkan jika impuls nyeri dihantarkan ke otak, terdapat pusat kortek yang lebih tinggi di otak yang memodifikasi nyeri. Alur saraf desenden melepaskan opiat endogen, seperti endorfin dan dinorfin, suatu pembunuh nyeri alami yang berasal dari tubuh. Neuromedulator ini menutup mekanisme pertahanan dengan menghambat pelepasan substansi P. tehnik distraksi, konseling dan pemberian plasebo merupakan upaya untuk melepaskan endorfin (Potter, 2005)
Respon Psikologis
respon psikologis sangat berkaitan dengan pemahaman klien terhadap nyeri yang terjadi atau arti nyeri bagi klien.
Arti nyeri bagi setiap individu berbeda-beda antara lain :
1) Bahaya atau merusak
2) Komplikasi seperti infeksi
3) Penyakit yang berulang
4) Penyakit baru
5) Penyakit yang fatal
6) Peningkatan ketidakmampuan
7) Kehilangan mobilitas
8) Menjadi tua
9) Sembuh
10) Perlu untuk penyembuhan
11) Hukuman untuk berdosa
12) Tantangan
13) Penghargaan terhadap penderitaan orang lain
14) Sesuatu yang harus ditoleransi
15) Bebas dari tanggung jawab yang tidak dikehendaki
Pemahaman dan pemberian arti nyeri sangat dipengaruhi tingkat pengetahuan, persepsi, pengalaman masa lalu dan juga faktor sosial budaya
Respon fisiologis terhadap nyeri
1) Stimulasi Simpatik:(nyeri ringan, moderat, dan superficial)
a) Dilatasi saluran bronkhial dan peningkatan respirasi rate
b) Peningkatan heart rate
c) Vasokonstriksi perifer, peningkatan BP
d) Peningkatan nilai gula darah
e) Diaphoresis
f) Peningkatan kekuatan otot
g) Dilatasi pupil
h) Penurunan motilitas GI
2) Stimulus Parasimpatik (nyeri berat dan dalam)
a) Muka pucat
b) Otot mengeras
c) Penurunan HR dan BP
d) Nafas cepat dan irreguler
e) Nausea dan vomitus
f) Kelelahan dan keletihan
Respon tingkah laku terhadap nyeri
1) Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup:
2) Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur)
3) Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir)
4) Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan gerakan jari & tangan
5) Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan, Menghindari kontak sosial, Penurunan rentang perhatian, Fokus pd aktivitas menghilangkan nyeri)
Individu yang mengalami nyeri dengan awitan mendadak dapat bereaksi sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau menjadi kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu terlalu letih untuk merintih atau menangis. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri hebat. Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap nyeri.
Meinhart & McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri:
1) Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima)
Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting, karena fase ini bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan seseorang belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Peran perawat dalam fase ini sangat penting, terutama dalam memberikan informasi pada klien.
2) Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa)
Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu bersifat subyektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Toleraransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan orang lain. orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya mencegah nyeri, sebelum nyeri datang.
Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan bagaimana orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus yang sama. Kadar endorfin berbeda tiap individu, individu dengan endorfin tinggi sedikit merasakan nyeri dan individu dengan sedikit endorfin merasakan nyeri lebih besar.
Klien bisa mengungkapkan nyerinya dengan berbagai jalan, mulai dari ekspresi wajah, vokalisasi dan gerakan tubuh. Ekspresi yang ditunjukan klien itulah yang digunakan perawat untuk mengenali pola perilaku yang menunjukkan nyeri. Perawat harus melakukan pengkajian secara teliti apabila klien sedikit mengekspresikan nyerinya, karena belum tentu orang yang tidak mengekspresikan nyeri itu tidak mengalami nyeri. Kasus-kasus seperti itu tentunya membutuhkan bantuan perawat untuk membantu klien mengkomunikasikan nyeri secara efektif.
3) Fase akibat (terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti)
Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis, sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila klien mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat (aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat berperan dalam membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan kemungkinan nyeri berulang.
Faktor yang mempengaruhi respon nyeri
1) Usia
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.
2) Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya (ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh nyeri).
3) Kultur
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri.
4) Makna nyeri
Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan dan bagaimana mengatasinya.
5) Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.
6) Ansietas
Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas.
7) Pengalaman masa lalu
Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.
8) Pola koping
Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri.
9) Support keluarga dan sosial
Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan dan perlindungan
Intensitas Nyeri
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
1) skala intensitas nyeri deskritifskala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numerik
Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis
Skala nyeri menurut bourbanis
Keterangan :
0 :Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi
dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis,
menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat
mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi
berkomunikasi, memukul.
Karakteristik paling subyektif pada nyeri adlah tingkat keparahan atau intensitas nyeri tersebut. Klien seringkali diminta untuk mendeskripsikan nyeri sebagai yang ringan, sedang atau parah. Namun, makna istilah-istilah ini berbeda bagi perawat dan klien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga sulit untuk dipastikan.
Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih obyektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari “tidak terasa nyeri” sampai “nyeri yang tidak tertahankan”. Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan meminta klien untuk memilih intensitas nyeri trbaru yang ia rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. Alat VDS ini memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan nyeri. Skala penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR, 1992).
Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi. VAS adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (Potter, 2005).
Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan tidak mengkomsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien dapat membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat. Skala deskritif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan nyeri, tapi juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat dapat menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter, 2005).

sumber
Priharjo, R (1993). Perawatan Nyeri, pemenuhan aktivitas istirahat. Jakarta : EGC hal : 87.
Shone, N. (1995). Berhasil Mengatasi Nyeri. Jakarta : Arcan. Hlm : 76-80
Ramali. A. (2000). Kamus Kedokteran : Arti dan Keterangan Istilah. Jakarta : Djambatan.
Syaifuddin. (1997). Anatomi fisiologi untuk siswa perawat.edisi-2. Jakarta : EGC. Hlm : 123-136.
Tamsuri, A. (2007). Konsep dan penatalaksanaan nyeri. Jakarta : EGC. Hlm 1-63
Potter. (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta: EGC. Hlm 1502-1533.

Kamis, 15 September 2011

Personal Hygiene

Kebersihan

Kebersihan merujuk ke set dari praktek dirasakan oleh masyarakat untuk berhubungan dengan pelestarian kesehatan dan hidup sehat. Sementara di modern ilmu kedokteran ada satu set standar kebersihan yang direkomendasikan untuk situasi yang berbeda, apa yang dianggap higienis atau tidak bisa bervariasi antara yang berbeda budaya , jenis kelamin dan kelompok etarian . Beberapa praktek higienis biasa mungkin dianggap kebiasaan baik oleh masyarakat sementara mengabaikan kebersihan dapat dianggap menjijikkan, disrepectful atau bahkan mengancam.

Etimologi

Pertama dibuktikan dalam bahasa Inggris di 1670s, kebersihan kata berasal dari Perancis kebersihan, latinisation dari Yunani ὑγιεινή (τέχνη) - hugieinē techne yang berarti, "(seni) kesehatan", dari ὑγιεινός (hugieinos), "baik untuk kesehatan, sehat ", [1] pada gilirannya dari ὑγιής (hugiēs), "menyehatkan, suara, bermanfaat, sehat". [2] Dalam agama Yunani kuno , Hygeia (Ὑγίεια) adalah personifikasi kesehatan. [3]

Konsep kebersihan

Kebersihan adalah sebuah konsep lama berhubungan dengan kedokteran, serta praktek-praktek perawatan pribadi dan profesional terkait dengan aspek yang paling hidup. Dalam bidang kedokteran dan di rumah (domestik) dan pengaturan kehidupan sehari-hari, praktek-praktek kebersihan yang dipekerjakan sebagai tindakan pencegahan untuk mengurangi insiden dan penyebaran penyakit. Dalam pembuatan makanan, farmasi, produk kosmetik dan lainnya, kebersihan yang baik adalah bagian kunci dari jaminan kualitas yaitu memastikan bahwa produk sesuai dengan spesifikasi mikroba yang tepat untuk penggunaannya. Istilah kebersihan (atau membersihkan) dan kebersihan sering digunakan secara bergantian, yang bisa menyebabkan kebingungan. Secara umum, kebersihan sebagian besar berarti praktek-praktek yang mencegah penyebaran organisme penyebab penyakit. Karena proses pembersihan (misalnya, mencuci tangan) menghapus mikroba menular serta kotoran dan tanah, mereka sering sarana untuk mencapai kebersihan. Kegunaan lain dari istilah muncul dalam frasa termasuk: kebersihan tubuh, kebersihan pribadi, kebersihan tidur , kesehatan mental , kesehatan gigi , dan kebersihan kerja , digunakan dalam kaitannya dengan kesehatan masyarakat . Kebersihan juga merupakan nama sebuah cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan promosi dan pelestarian kesehatan, juga disebut higiene. Praktek kebersihan sangat bervariasi, dan apa yang dianggap dapat diterima dalam satu budaya mungkin tidak dapat diterima di negara lain.

kebersihan Medis

Medis kebersihan berkaitan dengan praktek-praktek kebersihan yang berkaitan dengan administrasi obat-obatan, dan perawatan kesehatan, yang mencegah atau meminimalkan penyakit dan penyebaran penyakit.
Praktek kebersihan medis meliputi:
Sebagian besar praktek dikembangkan pada abad ke-19 dan mapan pada abad pertengahan ke-20. Beberapa prosedur (seperti pembuangan limbah medis) diperketat sebagai hasil dari akhir abad ke-20 wabah penyakit, terutama AIDS dan Ebola .

Rumah dan kebersihan kehidupan sehari-hari

Kebersihan rumah berkaitan dengan praktek-praktek kebersihan yang mencegah atau meminimalkan penyakit dan penyebaran penyakit di rumah (domestik) dan dalam pengaturan kehidupan sehari-hari seperti pengaturan sosial, transportasi umum, tempat kerja, tempat umum dll
Kebersihan di rumah dan pengaturan kehidupan sehari-hari berperan penting dalam mencegah penyebaran penyakit menular. [5] Ini mencakup prosedur yang digunakan dalam berbagai situasi domestik seperti kebersihan tangan, kebersihan pernapasan, makanan dan kebersihan air, kebersihan rumah umum (kebersihan lingkungan situs dan permukaan), perawatan hewan domestik, dan kesehatan rumah (perawatan orang yang beresiko lebih besar infeksi).
Saat ini, komponen ini kebersihan cenderung dianggap sebagai isu yang terpisah, meskipun semua didasarkan pada prinsip yang sama mikrobiologi yang mendasari. Mencegah penyebaran penyakit menular berarti memutus rantai penularan infeksi. Prinsip sederhana adalah bahwa, jika rantai infeksi rusak, infeksi tidak dapat menyebar. Dalam tanggapan terhadap kebutuhan untuk kode yang efektif kebersihan di rumah dan pengaturan kehidupan sehari-hari Forum Ilmiah Internasional tentang Kebersihan Depan telah mengembangkan pendekatan berbasis risiko (berdasarkan Titik Hazard Analysis Critical Control ( HACCP ), yang kemudian dikenal sebagai " kebersihan "Target sasaran kebersihan. didasarkan pada identifikasi rute penyebaran patogen di rumah, dan menerapkan prosedur kebersihan di titik kritis pada saat yang tepat untuk memutus rantai infeksi.
Sumber-sumber utama infeksi di rumah [6] adalah orang-orang (yang operator atau yang terinfeksi), makanan (terutama makanan mentah) dan air, dan hewan domestik (di negara-negara barat lebih dari 50% rumah memiliki satu atau lebih hewan peliharaan) . Selain itu, situs yang menumpuk stagnan air seperti sink, toilet, pipa limbah, alat pembersih, kain-siap menghadapi mendukung pertumbuhan mikroba, dan bisa menjadi reservoir infeksi sekunder, meskipun sebagian besar spesies mereka yang mengancam "berisiko" kelompok. Kuman (bakteri yang berpotensi menular, virus dll) terus gudang dari sumber-sumber melalui lendir, feses, muntahan, sisik kulit, dll Jadi, ketika keadaan menggabungkan, orang menjadi terbuka, baik secara langsung atau melalui makanan atau air, dan dapat mengembangkan infeksi . Utama "jalan raya" untuk penyebaran kuman [6] di rumah adalah tangan, tangan dan permukaan kontak makanan, dan kain pembersih dan peralatan. Kuman juga dapat menyebar melalui pakaian dan linen rumah tangga seperti handuk. Utilitas seperti toilet dan wastafel, misalnya, diciptakan untuk menangani secara aman dengan kotoran manusia, namun masih memiliki risiko yang terkait dengan mereka, yang mungkin menjadi kritis pada waktu tertentu, misalnya, ketika seseorang memiliki penyakit atau diare. Pembuangan yang aman dari limbah manusia adalah kebutuhan mendasar; miskin sanitasi adalah penyebab utama penyakit diare pada masyarakat berpenghasilan rendah. Virus pernapasan dan spora jamur juga menyebar melalui udara.
Kebersihan rumah yang baik berarti menargetkan prosedur kebersihan di titik-titik kritis, pada waktu yang tepat, untuk memutus rantai infeksi yaitu untuk menghilangkan kuman sebelum mereka dapat menyebar lebih lanjut. [6] Karena "dosis menular" untuk beberapa patogen bisa sangat kecil (10 - 100 unit yang layak, atau bahkan kurang untuk beberapa virus), dan infeksi dapat hasil dari transfer langsung dari permukaan melalui tangan atau makanan ke mulut, mukosa hidung atau mata, prosedur 'higienis pembersihan' harus cukup untuk menghilangkan patogen dari permukaan kritis. Membersihkan higienis dapat dilakukan dengan:
  • Mekanikal penghapusan (yaitu pembersihan) menggunakan sabun atau deterjen . Untuk menjadi efektif sebagai ukuran kebersihan, proses ini harus diikuti dengan pembilasan menyeluruh di bawah air mengalir untuk menghilangkan kuman dari permukaan.
  • Menggunakan proses atau produk yang inactivates patogen di situ. Kuman membunuh adalah dicapai dengan menggunakan "mikro-biosidal" yaitu produk desinfektan atau antibakteri produk atau pembersih tangan tanpa air , atau oleh aplikasi panas.
  • Dalam beberapa kasus dikombinasikan dengan membunuh kuman penghapusan digunakan, misalnya pencucian pakaian dan linen rumah tangga seperti handuk dan seprai.

Kebersihan tangan

Didefinisikan sebagai mencuci tangan atau mencuci tangan dengan sabun dan air atau menggunakan pembersih tangan tanpa air .
Kebersihan tangan merupakan pusat untuk mencegah penyebaran penyakit menular di rumah dan pengaturan kehidupan sehari-hari. [7]
Dalam situasi di mana mencuci tangan dengan sabun bukanlah pilihan (misalnya ketika di tempat umum tanpa akses ke fasilitas mencuci), sebuah pembersih tangan tanpa air seperti gel pembersih tangan alkohol dapat digunakan. Mereka juga dapat digunakan selain untuk mencuci tangan, untuk meminimalkan resiko ketika merawat "berisiko" kelompok. Agar efektif, alkohol gel pembersih tangan harus mengandung tidak kurang dari 60% v / v alkohol. Pembersih tangan tidak pilihan di kebanyakan negara berkembang, dalam situasi di mana ketersediaan air adalah masalah, ada solusi yang tepat seperti bergoncang-keran, yang menggunakan air lebih sedikit dan murah untuk membuat. Dalam masyarakat berpenghasilan rendah, lumpur atau abu kadang-kadang digunakan sebagai alternatif untuk sabun.

kebersihan Pernapasan

Pernapasan yang benar dan kebersihan tangan saat batuk dan bersin mengurangi penyebaran kuman khususnya selama dingin dan flu musim. [5]
  • Membawa jaringan dan menggunakan mereka untuk menangkap batuk dan bersin
  • Buang jaringan sesegera mungkin
  • Bersihkan tangan Anda dengan mencuci tangan atau menggunakan alkohol pembersih tangan .

Makanan kebersihan di rumah

Kebersihan makanan berkaitan dengan praktik-praktik kebersihan yang mencegah keracunan makanan. Lima prinsip kunci dari kebersihan makanan, menurut WHO , adalah: [8]
  1. Mencegah mengkontaminasi makanan dengan patogen menyebar dari orang-orang, hewan peliharaan, dan hama.
  2. Pisahkan makanan mentah dan dimasak untuk mencegah kontaminasi makanan yang dimasak.
  3. Memasak makanan untuk panjang yang tepat waktu dan pada suhu yang sesuai untuk membunuh patogen.
  4. Simpan makanan pada suhu yang tepat.
  5. Gunakan air yang aman dan bahan baku

Rumah Tangga pengolahan air dan penyimpanan yang aman

Rumah Tangga pengolahan air dan penyimpanan yang aman memastikan air minum yang aman untuk dikonsumsi. Minum kualitas air tetap menjadi masalah yang signifikan, tidak hanya di negara-negara berkembang [9] tetapi juga di negara-negara maju; [10] bahkan di kawasan Eropa diperkirakan bahwa 120 juta orang tidak memiliki akses ke air minum yang aman . Intervensi air point-of-menggunakan kualitas yang dapat mengurangi penyakit diare pada masyarakat dimana kualitas air yang buruk, atau dalam situasi darurat di mana ada gangguan dalam pasokan air. [9] [10] [11] [12] Karena air dapat terkontaminasi selama penyimpanan di rumah (misalnya dengan kontak dengan tangan yang terkontaminasi atau menggunakan kapal penyimpanan kotor), penyimpanan air yang aman di rumah juga penting.
Metode untuk pengolahan air minum, [12] [13] meliputi:
  1. Kimia Desinfeksi menggunakan klorin atau yodium
  2. Mendidih
  3. Filtrasi menggunakan filter keramik [14] [15]
  4. Surya disinfeksi - desinfeksi Solar adalah metode yang efektif, terutama ketika tidak ada disinfektan kimia yang tersedia. [16] [17]
  5. Radiasi UV - komunitas atau rumah tangga sistem UV dapat batch atau aliran-meskipun. Lampu dapat digantung di atas saluran air atau terendam dalam aliran air.
  6. Gabungan flokulasi / disinfeksi sistem - tersedia sebagai sachet bubuk yang bertindak dengan coagulating dan flocculating sedimen dalam air diikuti dengan pelepasan klorin.
  7. Metode Multibarrier - Beberapa sistem menggunakan dua atau lebih dari perawatan di atas dalam kombinasi atau secara berurutan untuk mengoptimalkan khasiat. [18]

Kebersihan di kamar mandi, dapur dan toilet

Rutin membersihkan "kontak" (tangan, makanan dan air minum) situs dan permukaan (seperti kursi toilet dan menyiram menangani, pintu dan menangani tekan, permukaan kerja, mandi dan permukaan basin) di dapur, kamar mandi dan toilet mengurangi risiko penyebaran kuman. [13] Risiko infeksi dari toilet itu sendiri tidak tinggi, asalkan itu benar dipertahankan, meskipun beberapa percikan dan pembentukan aerosol dapat terjadi selama penyiraman, terutama di mana seseorang dalam keluarga mengalami diare. Kuman bisa bertahan hidup di sampah atau skala tertinggal di kamar mandi dan baskom cuci dan mandi setelah.
Air yang tersisa stagnan dalam pipa shower dapat terkontaminasi dengan kuman yang menjadi udara saat mandi dihidupkan. Jika mandi tidak digunakan untuk beberapa waktu, itu harus dibiarkan untuk berjalan pada suhu panas selama beberapa menit sebelum digunakan.
Pembersihan menyeluruh adalah penting dalam mencegah penyebaran infeksi jamur. [19] Cetakan dapat hidup di dinding dan lantai keramik dan pada tirai shower. Mould dapat bertanggung jawab untuk infeksi, menyebabkan respon alergi, rusak / kerusakan permukaan dan menyebabkan bau yang tidak menyenangkan. Situs utama pertumbuhan jamur permukaan benda mati, termasuk karpet dan perabotan lembut. [20] Air-ditanggung jamur biasanya berhubungan dengan kondisi lembab, ventilasi yang buruk atau sistem udara tertutup.
Membersihkan toilet dan fasilitas cuci tangan penting untuk mencegah bau dan membuat mereka diterima secara sosial. Penerimaan sosial merupakan bagian penting dari mendorong orang untuk menggunakan toilet dan mencuci tangan mereka, khususnya dalam masyarakat berpenghasilan rendah.

kebersihan Layanan Binatu

Layanan Binatu kebersihan berkaitan dengan praktek-praktek yang mencegah atau meminimalkan penyakit dan penyebaran penyakit melalui pakaian kotor dan linen rumah tangga seperti handuk. [13] Barang paling mungkin terkontaminasi dengan patogen adalah mereka yang datang ke dalam kontak langsung dengan tubuh, misalnya, pakaian, handuk pribadi, facecloths, popok. Mikro-organisme juga dapat ditransfer antara barang yang terkontaminasi dan tidak terkontaminasi dari pakaian dan kain selama pencucian. Perhatian adalah baru "komunitas" strain MRSA . [21] Pengalaman di Amerika Serikat menunjukkan bahwa strain menular dalam keluarga, tetapi juga dalam pengaturan masyarakat seperti penjara, sekolah, dan tim olahraga. Kontak kulit-ke-kulit (termasuk kulit unabraided) dan tidak langsung dengan benda-benda yang terkontaminasi seperti handuk, seprai dan peralatan olahraga tampaknya mewakili modus penularan. [21]
Dua proses yang dianggap cocok untuk membersihkan pakaian dan higienis linen: [13]
  • Cuci atau pencucian pada 60 ° C atau di atas
  • Cuci atau pencucian pada 30-40 ° C menggunakan produk pemutih berbasis: Ini menghasilkan dekontaminasi kain dengan kombinasi penghapusan fisik dan inaktivasi kimia. Namun, beberapa jenis jamur dan virus yang sulit untuk menonaktifkan, tidak dapat dihapus.
Mencuci pada suhu 40 ° C atau bawah dengan produk non-pemutih dianggap membawa risiko dekontaminasi tidak memadai.

Kedokteran kebersihan di rumah

Medis kebersihan berkaitan dengan praktek-praktek kebersihan yang mencegah atau meminimalkan penyebaran penyakit dan penyakit dalam kaitannya dengan pemberian perawatan medis bagi mereka yang terinfeksi atau yang lebih "berisiko" infeksi di rumah. Di seluruh dunia, pemerintah semakin di bawah tekanan untuk mendanai tingkat kesehatan yang orang harapkan. Perawatan peningkatan jumlah pasien di masyarakat, termasuk di rumah adalah satu jawaban, tetapi dapat fatal dirusak oleh pengendalian infeksi yang tidak memadai di rumah. Semakin, semua ini "berisiko" kelompok dirawat di rumah dengan pengasuh yang mungkin anggota rumah tangga yang dengan demikian membutuhkan pengetahuan yang baik kebersihan. Orang dengan kekebalan terhadap infeksi berkurang, yang dirawat di rumah, membuat meningkatkan proporsi penduduk (saat ini hingga 20%). [5] Proporsi terbesar adalah orang tua yang memiliki ko-morbiditas, yang mengurangi kekebalan mereka untuk infeksi. Ini juga mencakup, sangat muda pasien dipulangkan dari rumah sakit, mengambil obat penekan kekebalan atau menggunakan sistem invasif, dll Untuk pasien dipulangkan dari rumah sakit, atau dirawat di "kebersihan medis" rumah khusus (lihat di atas) prosedur mungkin perlu dilakukan untuk mereka misalnya kateter atau penggantian ganti, yang menempatkan mereka pada risiko tinggi infeksi.
Antiseptik dapat diterapkan pada luka, luka lecet kulit untuk mencegah masuknya bakteri berbahaya yang dapat menyebabkan sepsis. Praktek kebersihan sehari-hari, selain prosedur khusus kebersihan medis [22] tidak berbeda bagi mereka yang berisiko tinggi terinfeksi daripada anggota keluarga lainnya. Perbedaannya adalah bahwa, jika praktik-praktik kebersihan yang tidak benar dilakukan, risiko infeksi jauh lebih besar.

Kebersihan Depan dalam masyarakat berpenghasilan rendah

Di negara berkembang, selama beberapa dekade, akses universal terhadap air dan sanitasi telah dilihat sebagai langkah penting dalam mengurangi beban ID dicegah, tetapi sekarang jelas bahwa ini adalah yang terbaik dicapai oleh program yang mengintegrasikan promosi kebersihan dengan perbaikan kualitas air dan ketersediaan, dan sanitasi . Sekitar 2 juta orang meninggal setiap tahun karena penyakit diare, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak kurang dari 5 tahun. [23] Yang paling terkena adalah populasi di negara berkembang, hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrim, biasanya penghuni pinggiran kota atau penduduk pedesaan. Menyediakan akses ke jumlah yang cukup air yang aman, penyediaan fasilitas untuk pembuangan ekskreta sanitasi, dan perilaku suara memperkenalkan kebersihan penting modal untuk mengurangi beban penyakit yang disebabkan oleh faktor-faktor risiko.
Penelitian menunjukkan bahwa, jika luas dipraktekkan, mencuci tangan dengan sabun dapat mengurangi diare oleh hampir lima puluh persen [24] [25] [26] dan infeksi pernapasan oleh hampir dua puluh lima persen [27] [28] Mencuci tangan dengan sabun juga mengurangi kejadian penyakit kulit, [29] [30] infeksi mata seperti trakoma dan cacing usus, terutama ascariasis dan trichuriasis. [31]
Praktek kebersihan lainnya, seperti pembuangan yang aman dari sampah, kebersihan permukaan, dan perawatan hewan domestik, juga penting dalam masyarakat berpenghasilan rendah untuk memutus rantai penularan infeksi. [32]

Desinfektan dan antibakteri dalam kebersihan rumah

Disinfektan kimia adalah produk yang membunuh kuman (bakteri berbahaya, virus dan jamur). Jika produk desinfektan, label pada produk harus mengatakan "disinfektan" dan / atau "membunuh" kuman atau bakteri dll Beberapa produk komersial, misalnya pemutih, meskipun mereka secara teknis disinfektan, mengatakan bahwa mereka "membunuh kuman", namun tidak benar-benar diberi label sebagai "desinfektan". Tidak semua desinfektan membunuh semua jenis kuman. Semua desinfektan membunuh bakteri (disebut bakterisida). Beberapa juga membunuh jamur (fungisida), spora bakteri (sporicidal) dan / atau virus (virucidal).
Sebuah antibakteri produk adalah produk yang bertindak melawan bakteri dalam beberapa cara yang tidak ditentukan. Beberapa produk berlabel "antibakteri" membunuh bakteri sementara yang lain mungkin mengandung konsentrasi bahan aktif yang hanya mencegah mereka berkembang biak. Oleh karena itu, penting untuk memeriksa apakah negara-negara label produk yang "membunuh" bakteri "Sebuah antibakteri. Tidak selalu anti-jamur atau anti-virus kecuali hal ini dinyatakan pada label.
Istilah pembersih telah digunakan untuk menentukan zat yang baik bersih dan disinfeksi. Baru-baru ini istilah ini telah diterapkan untuk produk berbasis alkohol yang disinfeksi tangan ( alkohol pembersih tangan ). Alkohol pembersih tangan bagaimanapun tidak dianggap efektif pada tangan kotor.
Istilah biosida adalah istilah luas untuk suatu zat yang membunuh, inactivates kontrol atau organisme hidup. Ini termasuk antiseptik dan desinfektan, yang memerangi mikro-organisme, dan juga termasuk pestisida .

kebersihan Tubuh

Kebersihan tubuh berkaitan dengan praktek-praktek kebersihan yang dilakukan oleh seorang individu untuk merawat kesehatan tubuh seseorang dan kesejahteraan, melalui kebersihan. Motivasi untuk praktek kebersihan pribadi termasuk pengurangan penyakit pribadi, penyembuhan dari penyakit pribadi, kesehatan optimal dan rasa penerimaan yang baik, sosial dan pencegahan penyebaran penyakit kepada orang lain.
Praktek-praktek kebersihan pribadi mencakup: berobat ke dokter, melihat seorang dokter gigi, cuci reguler / mandi, dan makan sehat. grooming Pribadi meluas kebersihan pribadi karena berkaitan dengan pemeliharaan penampilan pribadi dan publik yang baik, yang tidak perlu tentu higienis.
Kebersihan tubuh dicapai dengan menggunakan produk kebersihan tubuh pribadi termasuk: sabun, shampo rambut, sikat gigi , pasta gigi, kapas, antiperspirant, tisu wajah, obat kumur, kikir kuku, pembersih kulit, kertas toilet, dan produk seperti lainnya.

kebersihan tubuh berlebihan

Manfaat dari kebersihan tubuh bisa dikurangi dengan resiko kebersihan tubuh yang berlebihan, yang dihipotesiskan untuk menyebabkan penyakit alergi dan iritasi tubuh.

kebersihan tubuh berlebihan dan alergi

Para hipotesis kebersihan pertama kali dirumuskan pada tahun 1989 oleh Strachan yang mengamati bahwa ada hubungan terbalik antara ukuran keluarga dan perkembangan gangguan alergi atopik - anak lebih dalam keluarga, semakin kurang kemungkinan mereka untuk mengembangkan alergi . [33] Dari , ia hipotesis bahwa kurangnya paparan untuk "infeksi" pada anak usia dini ditularkan oleh kontak dengan saudara yang lebih tua bisa menjadi penyebab peningkatan pesat dalam gangguan atopik selama 30-40 tahun terakhir. Strachan lanjut mengusulkan bahwa alasan mengapa paparan ini tidak lagi terjadi, bukan hanya karena kecenderungan keluarga yang lebih kecil, tetapi juga "fasilitas rumah tangga baik dan standar yang lebih tinggi dari kebersihan pribadi ".
Meskipun ada bukti substansial bahwa beberapa paparan mikroba pada anak usia dini dapat dalam beberapa cara melindungi terhadap alergi, tidak ada bukti bahwa kita perlu paparan mikroba berbahaya (infeksi) atau bahwa kita perlu untuk menderita infeksi klinis. [34] [35] [36] Juga tidak ada bukti bahwa langkah-langkah kebersihan seperti mencuci tangan, makanan dll kebersihan terkait peningkatan kerentanan terhadap penyakit atopik [31] [32] Jika hal ini terjadi, tidak ada konflik antara tujuan mencegah infeksi dan meminimalkan alergi. Sebuah konsensus kini berkembang di antara para ahli bahwa jawabannya terletak pada perubahan yang lebih mendasar dalam dll gaya hidup yang telah menyebabkan paparan menurun menjadi mikroba tertentu atau spesies lain, seperti cacing, yang penting untuk pengembangan immuno-peraturan mekanisme. [37] Masih banyak ketidakpastian sebagai yang faktor gaya hidup yang terlibat.
Meskipun liputan media dari hipotesis kebersihan telah menurun, "pola pikir kolektif 'yang kuat telah menjadi mapan bahwa kotoran adalah' sehat 'dan kebersihan entah bagaimana' tidak wajar '. Hal ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan profesional kesehatan yang perilaku higienis kehidupan sehari-hari, yang merupakan dasar kesehatan masyarakat, sedang dirusak. Dalam menanggapi perlunya kebersihan yang efektif di rumah dan pengaturan kehidupan sehari-hari, Forum Ilmiah Internasional tentang Kebersihan Depan telah mengembangkan "berbasis risiko" atau ditargetkan pendekatan untuk kebersihan rumah yang berusaha untuk memastikan bahwa langkah-langkah kebersihan difokuskan pada tempat-tempat, dan pada waktu yang penting untuk transmisi infeksi. [6] Sementara kebersihan yang ditargetkan pada awalnya dikembangkan sebagai suatu pendekatan yang efektif untuk praktik kebersihan, juga berusaha, sejauh mungkin, untuk mempertahankan "normal" level paparan terhadap flora mikroba dari lingkungan kita sejauh yang penting untuk membangun sistem kekebalan tubuh seimbang.

kebersihan tubuh berlebihan kanal telinga eksternal

Kebersihan tubuh yang berlebihan dari saluran telinga dapat mengakibatkan infeksi atau iritasi. Lubang telinga membutuhkan tubuh yang kurang perawatan kebersihan dari bagian lain dari tubuh, karena mereka peka, dan sistem tubuh memadai peduli untuk bagian ini. Sebagian besar waktu kanal-kanal telinga membersihkan dirinya sendiri, yaitu, ada migrasi lambat dan teratur dari kulit yang melapisi kanal telinga dari gendang telinga ke pembukaan luar telinga. Lama kotoran telinga terus-menerus diangkut dari daerah yang lebih dalam dari saluran telinga ke lubang yang biasanya kering, mengelupas, dan jatuh keluar. [38] Upaya untuk membersihkan saluran telinga melalui penghapusan kotoran telinga sebenarnya dapat mengurangi kebersihan telinga kanal oleh mendorong puing-puing dan material asing ke telinga bahwa gerakan alami dari lilin telinga keluar dari telinga akan dihapus.

kebersihan tubuh berlebihan kulit

Kebersihan tubuh berlebihan kulit dapat mengakibatkan iritasi kulit. Kulit memiliki lapisan minyak alami, yang mempromosikan elastisitas, dan melindungi kulit dari kekeringan. Saat mencuci, kecuali menggunakan krim berair dengan mekanisme kompensasi, lapisan ini dihapus meninggalkan kulit terlindungi.
Aplikasi berlebihan dari sabun, krim, dan salep juga dapat mempengaruhi tertentu dari proses alami kulit. Sebagai contoh, sabun dan salep dapat menguras minyak pelindung kulit alami dan lemak-larut konten seperti cholecalciferol (vitamin D3), dan zat-zat eksternal dapat diserap, mengganggu keseimbangan hormon alami.

Kuliner (makanan) kebersihan

Berkaitan kebersihan kuliner ke praktek yang berkaitan dengan manajemen makanan dan memasak untuk mencegah kontaminasi makanan , mencegah keracunan makanan dan meminimalkan penularan penyakit ke yang lain, manusia atau hewan makanan. Praktek kebersihan Kuliner menentukan cara aman untuk menangani, menyimpan, mempersiapkan, melayani dan makan makanan.
Kuliner praktek meliputi:
  • Pembersihan dan disinfeksi persiapan makanan daerah dan peralatan (misalnya menggunakan talenan yang ditunjuk untuk mempersiapkan mentah daging dan sayuran). Membersihkan mungkin melibatkan penggunaan pemutih klorin , etanol , sinar ultraviolet , dll untuk desinfeksi.
  • Hati-hati menghindari daging terkontaminasi oleh cacing trichina , salmonella , dan patogen lainnya, atau memasak daging dipertanyakan menyeluruh.
  • Ekstrim perawatan dalam mempersiapkan makanan mentah, seperti sushi dan sashimi .
  • Kelembagaan sanitasi piring dengan mencuci dengan sabun dan air bersih.
  • Mencuci tangan yang bersih sebelum menyentuh makanan.
  • Mencuci tangan setelah menyentuh makanan mentah saat menyiapkan makanan .
  • Tidak menggunakan sama peralatan untuk mempersiapkan makanan yang berbeda.
  • Tidak berbagi peralatan makan saat makan.
  • Tidak menjilat jari atau tangan sementara atau setelah makan.
  • Tidak menggunakan kembali melayani peralatan yang telah menjilat.
  • Tepat penyimpanan makanan untuk mencegah kontaminasi oleh kutu .
  • Pendinginan makanan (dan menghindari makanan tertentu dalam lingkungan di mana pendinginan atau tidak layak).
  • Label makanan untuk menunjukkan bila itu diproduksi (atau, sebagai produsen makanan lebih, untuk menunjukkan yang "terbaik sebelum" tanggal ).
  • Pembuangan yang tepat dan kemasan makanan dimakan.

kebersihan layanan Pribadi

Kebersihan pribadi berkaitan pelayanan kepada praktek-praktek yang berkaitan dengan perawatan dan penggunaan instrumen yang digunakan dalam penyelenggaraan jasa perawatan pribadi kepada orang-orang:
Praktek-praktek kebersihan pribadi mencakup:

Sejarah praktek-praktek higienis

Kode Rumit kebersihan dapat ditemukan dalam teks-teks Hindu beberapa seperti Manusmriti dan Vishnu Purana . [39] Mandi adalah salah satu dari lima karma Nitya (tugas sehari-hari) dalam agama Hindu, dan tidak melakukan itu mengarah pada dosa, menurut beberapa tulisan suci.
Mandi secara teratur adalah ciri dari peradaban Romawi . [40] Menjelaskan mandi dibangun di daerah perkotaan untuk melayani masyarakat, yang biasanya menuntut infrastruktur untuk menjaga kebersihan pribadi. Kompleks biasanya terdiri dari besar, kolam renang seperti mandi, kolam dingin dan panas yang lebih kecil, sauna, dan spa-seperti fasilitas mana individu bisa depilated, diminyaki, dan dipijat. Air selalu berubah oleh saluran air aliran-makan. Mandi di luar pusat perkotaan yang terlibat lebih kecil, fasilitas mandi yang kurang rumit, atau hanya menggunakan badan air bersih. Kota-kota besar Romawi juga memiliki saluran pembuangan , seperti Roma Kloaka Maxima , di mana kakus umum dan swasta dikeringkan. Romawi tidak memiliki permintaan-flush toilet tapi memiliki beberapa toilet dengan aliran air yang kontinu di bawah mereka. (Toilet serupa terlihat di Acre Penjara dalam film Keluaran .)
Sampai akhir abad 19, hanya elit di kota-kota Barat biasanya memiliki fasilitas ruangan untuk menghilangkan fungsi tubuh. Mayoritas miskin digunakan fasilitas umum dibangun di atas septik tank di halaman belakang dan halaman. Hal ini berubah setelah Dr John Snow menemukan bahwa kolera ditularkan oleh kontaminasi kotoran dari air. Meskipun butuh puluhan tahun untuk temuan untuk mendapatkan penerimaan luas, pemerintah dan reformis sanitasi akhirnya yakin akan manfaat kesehatan menggunakan saluran pembuangan limbah untuk menjaga manusia dari mengkontaminasi air. Hal ini mendorong adopsi luas dari kedua flush toilet dan kamar mandi imperatif moral yang harus di dalam ruangan dan sebagai pribadi mungkin. [41]

yurisprudensi Islam higienis

Sejak abad ke-7, Islam selalu menempatkan penekanan yang kuat pada kebersihan. Selain perlu ritual bersih dalam waktu untuk doa sehari-hari (bahasa Arab: shalat ) melalui Wudhu dan Mandi , ada sejumlah besar lainnya yang berhubungan dengan kebersihan aturan yang mengatur kehidupan umat Islam. Masalah-masalah lain termasuk hukum diet Islam . Secara umum, Al-Qur'an menyarankan umat Islam untuk menegakkan standar yang tinggi kebersihan fisik dan secara ritual bersih bila memungkinkan.

Kebersihan di Eropa Abad Pertengahan

Berlawanan dengan kepercayaan populer [42] dan meskipun para pemimpin Kristen awal [ siapa? ] mandi dikutuk sebagai rohani, [43] mandi dan sanitasi yang tidak hilang di Eropa dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi . [44] [45] pembuatan sabun pertama kali menjadi suatu perdagangan yang didirikan selama apa yang disebut " Dark Ages ". Para Romawi digunakan beraroma minyak (kebanyakan dari Mesir), di antara alternatif lain.
Eropa Utara tidak dalam kebiasaan mandi: pada abad kesembilan Notker yang orang gagap , seorang biarawan St Gall kaum Frank, terkait sebuah anekdot setuju bahwa sakit disebabkan hasil dari kebersihan pribadi ke mode Italia:
Ada seorang diaken tertentu yang mengikuti kebiasaan orang Italia di bahwa ia terus-menerus berusaha untuk melawan alam. Ia digunakan untuk mengambil mandi, ia sangat erat kepalanya dicukur, ia dipoles kulitnya, dia membersihkan kuku, ia memiliki rambut dipotong pendek seolah-olah itu dihidupkan mesin bubut, dan dia mengenakan pakaian linen dan salju putih kemeja.
Diakon datang ke akhir lengket. [46]
Teks abad pertengahan sekuler terus-menerus merujuk pada mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, tapi Sone de Nansay, pahlawan asmara abad ke-13, menemukan kecewa bahwa Norwegia tidak mencuci setelah makan. [47] Pada abad 11 dan 12 , mandi adalah penting untuk kelas atas Eropa Barat: yang Cluny biara yang mereka terpaksa atau pensiun selalu dilengkapi dengan pemandian, dan bahkan para biksu diminta untuk mandi perendaman penuh dua kali setahun, pada dua festival Kristen pembaharuan, meskipun mendesak untuk tidak mengungkap diri dari bawah lembaran renang mereka. [48] Dalam Tuscany abad ke-14, mandi pasangan pengantin baru bersama-sama adalah seperti konvensi perusahaan satu pasangan tersebut, dalam bak coopered besar, digambarkan dalam lukisan di balai kota San Gimignano . [49]
Jadi mandi telah jatuh dari mode di Eropa Utara jauh sebelum Renaisans , ketika pemandian umum komunal kota Jerman pada gilirannya mereka heran untuk pengunjung Italia. Mandi digantikan oleh penggunaan berat keringat-mandi dan parfum , karena ia berpikir di Eropa bahwa air bisa membawa penyakit ke dalam tubuh melalui kulit. (Air, pada kenyataannya, tidak membawa penyakit, tetapi lebih sering jika diminum daripada jika satu mandi di dalamnya; dan air saja membawa penyakit jika terkontaminasi oleh patogen .) Mandi mendorong suasana erotis yang dimainkan pada oleh para penulis roman ditujukan untuk kelas atas; [50] dalam kisah Melusine bak mandi adalah elemen penting dari plot. "Mandi dan dandan yang dipandang dengan kecurigaan oleh para moralis, namun, karena mereka meluncurkan tarik tubuh Mandi dikatakan menjadi awal untuk berbuat dosa,. Dan dalam tobat Burchard Worms kita menemukan sebuah katalog lengkap dari dosa-dosa yang terjadi . bila pria dan wanita mandi bersama " [51] otoritas gereja Abad Pertengahan percaya bahwa mandi umum menciptakan lingkungan yang terbuka untuk imoralitas dan penyakit, sedangkan 26 pemandian umum Paris pada abad ke-13 akhir yang ketat diawasi oleh otoritas sipil. [51] Pada kemudian Gereja Katolik Roma pejabat bahkan dilarang mandi umum dalam upaya yang gagal untuk menghentikan sifilis epidemi dari Eropa menyapu. [52]
Sanitasi modern tidak banyak diadopsi sampai abad 19 dan 20. Menurut sejarawan abad pertengahan Lynn Thorndike, orang-orang di Eropa Abad Pertengahan mungkin dimandikan lebih dari orang lakukan di abad ke-19. [53]
ohol

Referensi

  1. ^ ὑγιεινός , Henry George Liddell, Robert Scott, A Leksikon Yunani-Inggris, pada Perseus
  2. ^ ὑγιής , Henry George Liddell, Robert Scott, A Leksikon Yunani-Inggris, pada Perseus
  3. ^ ὑγίεια , Henry George Liddell, Robert Scott, A Leksikon Yunani-Inggris, pada Perseus
  4. ^ http://www.nytimes.com/2009/09/17/health/17chen.html Mengapa Jangan Cuci Tangan Dokter Lebih?
  5. ^ a b c Bloomfield SF, Exner M, Fara GM, KJ Nath, Scott, EA; Van der Voorden C. beban global penyakit terkait kebersihan dalam kaitannya dengan rumah dan masyarakat. (2009) International Forum Ilmiah Kebersihan Rumah. Tersedia
  6. ^ Bloomfield, SF, Aiello AE, Cookson B, O'Boyle C, Larson, EL, Efektivitas prosedur kebersihan tangan termasuk mencuci tangan dan alkohol pembersih tangan berbahan dasar dalam mengurangi risiko infeksi dalam pengaturan rumah dan masyarakat "American Journal of Infeksi 2007; 35, suppl 1: S1-64
  7. ^ [1]
  8. ^ a b Pemberantasan penyakit yang ditularkan melalui air pada tingkat rumah tangga. Organisasi Kesehatan Dunia 2007 http://www.who.int/water_sanitation_health/publications/combating_diseasepart1lowres.pdf
  9. ^ a b International Forum Ilmiah Kebersihan Rumah. Air rumah tangga penyimpanan, penanganan dan point-of-menggunakan pengobatan
  10. ^ Clasen TF, intervensi Haller L. Kualitas air untuk mencegah diare: biaya dan efektivitas biaya. 2008, Organisasi Kesehatan Dunia, Jenewa. Laporan ini tersedia dari: http://www.who.int/water_sanitation_health/economic/prevent_diarrhoea/en/index.html
  11. ^ a b Rumah Tangga bencana pengolahan air berikut dan keadaan darurat. Organisasi kesehatan Dunia
  12. ^ a b c d Beumer R, Bloomfield SF, Exner M, Fara GM, KJ Nath, Scott EA. Prosedur kebersihan di rumah dan efektivitas mereka: review dari dasar bukti ilmiah (2008). Forum Ilmiah Internasional Kebersihan Rumah. Tersedia
  13. ^ www.potpaz.org/
  14. ^ www.purifier.com.np
  15. ^ www.sodis.ch
  16. ^ www.who.int / water_sanitation_heal th/dwq/wsh0207/en /.
  17. ^ www.pureitwater.com / tentang / how_it_works.asp
  18. ^ Scott E. Mikroba Pengurangan Risiko: Manfaat Membersihkan Efektif. 2010 Dalam persiapan. Cole alergen E. kontrol melalui rutin membersihkan waduk polutan di lingkungan rumah. Prosiding Membangun Sehat 2000; 4:435-6.
  19. ^ Cole E. alergen kontrol melalui rutin membersihkan waduk polutan di lingkungan rumah. Prosiding Membangun Sehat 2000; 4:435-6.
  20. ^ a b Bloomfield SF, Cookson B, Falkiner F, Griffith C, Cleary V. Methicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Clostridium difficile dan ESBL penghasil Escherichia coli di rumah dan masyarakat: menilai masalah, mengendalikan penyebaran. (2006). Forum Ilmiah Internasional Kebersihan Rumah. Tersedia
  21. ^ Depan kebersihan - pencegahan infeksi di rumah: sumber pelatihan untuk pelatih penjaga dan mereka. (2003) International Forum Ilmiah Kebersihan Rumah. Tersedia
  22. ^ WHO 2008. Beban global Penyakit: 2004 update. Available from: http://www.who.int/healthinfo/global_burden_disease/2004_report_update/en/index.html .
  23. ^ Curtis V, Cairncross S. Pengaruh mencuci tangan dengan sabun pada risiko diare di masyarakat: kajian sistematis. Lancet Infectious Diseases 2003; 3:275-81.
  24. ^ Aiello AE, Coulborn RM, Perez V, Larson EL. Pengaruh kebersihan tangan pada risiko penyakit menular dalam pengaturan masyarakat: suatu meta-analisis. American Journal of Public Health 2008; 98:1372-81.
  25. ^ Fewtrell L, Kauffman RB, Kay D, Enanoria W, Haller L, Colford JM. Air, sanitasi, dan kebersihan intervensi untuk mengurangi diare di negara-negara berkembang: sebuah review sistematis dan meta-analisis, Lancet Infectious Diseases 2005; 5: 42-52.
  26. ^ Kesehatan dampak mencuci tangan. Bahkan BAIK lembar 2006. Available from: http://www.lboro.ac.uk/well/resources/fact-sheets/fact-sheets-htm/Handwashing.htm .
  27. ^ Jefferson T, Foxlee R, Del Mar C, et al. Fisik intervensi untuk mengganggu atau mengurangi penyebaran virus pernapasan: review sistematis. British Medical Journal 2007; 336:77-80. doi: 10.1136/British Medis Journal.39393.510347.BE.
  28. ^ Luby S, M Agboatalla, Feikin DR, Painter J, Billhimmer W, Atref A, RM Hoekstra. Pengaruh pada kesehatan anak mencuci tangan: percobaan kontrol secara acak. Lancet 2005 366 225-33.
  29. ^ Luby S, M Agboatwalla, Schnell BM, Hoekstra RM, Rahbar MH, Keswick BH. Efek sabun antibakteri pada kejadian impetigo, Karachi, Pakistan. American Journal Kedokteran Tropis dan Kebersihan 2002; 67:430-5.
  30. ^ a b Penggunaan abu dan lumpur untuk mencuci tangan di komunitas berpenghasilan rendah. Bloomfield SF; KJ
  31. ^ a b Pedoman untuk pencegahan infeksi dan infeksi silang dalam lingkungan domestik: fokus pada masalah kebersihan rumah di negara berkembang (2002). Forum Ilmiah Internasional Kebersihan Rumah. Tersedia
  32. ^ Strachan DP. Keluarga ukuran, infeksi dan atopi: dekade pertama dari "hipotesis kebersihan". Thorax 55 Suppl 1: S2-10: S2-10, 2000..
  33. ^ Stanwell Smith R, Bloomfield SF. Hipotesis kebersihan dan implikasi untuk kebersihan rumah. Forum Ilmiah Internasional Kebersihan Rumah. Tanggal - lihat Tersedia
  34. ^ Bloomfield SF, Stanwell-Smith R. Crevel RWR, Pickup J. Terlalu bersih, atau tidak terlalu bersih: Hipotesis Kebersihan dan kebersihan rumah. Klinis dan Eksperimental Alergi 2006; 36:402-25.
  35. ^ Bremner SA, Carey IM, DeWilde S, Richards N, Maier WC, Hilton SR, Strachan DP, Cook DG. Infeksi menyajikan untuk perawatan klinis di kehidupan awal dan kemudian risiko demam dalam dua kelompok kelahiran Inggris. Alergi 2008; 63 (3) :274-83.
  36. ^ Rook GAW, Dahlem Konferensi ke-99 pada Gangguan Infeksi, Inflamasi kronis Peradangan dan: obat Darwin dan 'kebersihan' atau hipotesis 'teman lama'. Klinis dan Eksperimental Imunologi, 160: 70-79.
  37. ^ Kotoran telinga, Medicinenet.com
  38. ^ Sulabh Internasional Museum Toilet .
  39. ^ rumah mandi Romawi
  40. ^ Poop Budaya: Bagaimana Amerika Berbentuk oleh Grossest Produk Nasional , ISBN 1-932-59521-X .
  41. ^ Old Bad Days - Pernikahan & Kebersihan
  42. ^ wudhu atau mandi, Perspektif Sejarah + (Latin: abluere, untuk membasuh)
  43. ^ Para Kelaparan Besar (1315-1317) dan Black Death (1346-1351)
  44. ^ Abad Pertengahan Kebersihan
  45. ^ Notker, Kehidupan Charlemagne.
  46. ^ Tercatat dalam Danielle Régnier-Böhler, "Membayangkan diri" dalam Duby 1988:363 f.
  47. ^ Philippe Braunstein "Keheningan: kesebelas abad ketiga belas", di Georges Duby, ed Sejarah Kehidupan Pribadi:. II. Wahyu Dunia Abad Pertengahan 1988:525
  48. ^ Fresco dari c. 1320 digambarkan di Charles de la Roncière, "Tuscan tokoh-tokoh pada malam Renaissance" di Duby 1988:232.
  49. ^ Régnier-Böhler 1988:363 ff.
  50. ^ a b Braunstein 1988:525.
  51. ^ Paige, John C; Laura Woulliere Harrison (1987). Keluar dari Uap: Sejarah Sosial dan Arsitektur pemandian Row, Hot Springs National Park . US Departemen Dalam .
  52. ^ / www.godecookery.com/mtales/mtales08.htm Thorndike, Kisah Abad Pertengahan - Daily Life .