Asep Candra |
Senin, 27 Desember 2010 | 10:16 WIB
KOMPAS.COM - Tahi lalat (nevus pigmentosus)
merupakan tumor jinak pada kulit yang paling umum dijumpai pada
manusia. Tumor jinak ini yang khas berwarna gelap, besarnya menetap,
meski ada juga yang terus membesar.
Sebagian besar tahi lalat ada
sejak lahir, tapi bisa juga baru muncul saat dewasa. Umumnya pemicunya
adalah sering kontak dengan sinar matahari, sehingga berdampak pada
meningkatnya pigmen melanin. Dapat pula tahi lalat terjadi karena faktor
genetik, obat-obatan pemutih kulit, makanan cepat saji, atau
bahan-bahan yang mengandung arsen.
Tahi lalat merupakan indikasi
penumpukan pigmen yang sudah tertahan di bawah kulit sejak janin.
Pigmen-pigmen ini memiliki sarang di bawah kulit dan bisa timbul
sewaktu-waktu. Itulah sebabnya tahi lalat bisa bertambah banyak seiring
bertambahnya usia.
"Tahi lalat secara umum tidak berbahaya, dan
biasanya hanya menimbulkan keluhan kosmetis, meski dapat pula berubah
menjadi kanker," ujar Dr. Tjut Nurul Alam Jacoeb, Sp.KK. Untuk
mengetahui bahaya tidaknya tahi lalat dapat dilakukan pemeriksaan dengan
melode ABCD.
* A (Asymmetris). Tahi lalat vang bersifat kanker cenderung mempunyai bentuk tak beraturan. Tahi lalat yang normal bentuknya bulat.
* B (Border).
Tahi lalat yang bersifat kanker mempunyai batas atau pinggiran
abnormal, yakni tepinya bergerigi dan kadang timbul tonjolan di tengah
tahi lalat. Pada tahi lalat normal permukaan tepinya cenderung, rata dan
tak ada tonjolan.
* C (Colour). Tahi lalat yang
beraneka warna seperti cokelat, merah, putih, biru, dan hitam sering
menandai bersifat kanker ketimbang tahi lalat satu warna. "Waspadai jika
memiliki tahi lalat dengan warna tidak homogen, bisa jadi itu gejala
kanker," katanya.
* D (Diameter). Tahi lalat
yang bersifat kanker biasanya memiliki ukuran lebih besar daripada yang
jinak. Tahi lalat yang berbahaya ukurannya terus membesar hingga
memiliki diameter lebih dari 6 milimeter.
Tahi lalat yang berisiko
kanker harus ditangani segera sebelum metastatis atau menyebar ke
bagian tubuh lainnya. Satu-satunya cara membuang tahi lalat adalah
dengan jalan operasi.
"Ada kalanya orang minta tahi lalatnya
diangkat untuk kepentingan kosmetis atau secara fengshui kurang bagus.
Sah-sah saja sih, tapi jika memang tidak menimbulkan keluhan sebaiknya
tak usah dihilangkan," katanya lagi. (put)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar