Penggunaan Obat Golongan Proton Pump Inhibitor (Omeprazol)
Pada Terapi Tukak Lambung
Disusun oleh : Renny Yuliani Santoso (068115125)
Tukak
lambung merupakan salah satu penyakit yang mengganggu sistem
gastrointestinal. Tukak lambung disebabkan oleh adanya ketidak
seimbangan antara mekanisme pertahanan dan perbaikan mukosa lambung
dengan asam lambung dan pepsin.
Asam
lambung disekresi oleh sel parietal lambung. Pepsinogen disekresi oleh
sel shief pada fundus lambung.Pertahanan mukosa lambung dimaksudkan
untuk melindungi lambung dari bahan dari dalam maupun bahan dari luar
tubuh yang berbahaya. Perbaikan mukosa lambung terjadi saat timbul luka
pada lambung akibat penggantian sel epitel.
Gangguan
pertahanan dan perbaikan mukosa lambung terutama disebabkan oleh
infeksi Hellicobacter pylori (HP) dan penggunaan NSAIDs. HP merupakan
bakteri gram negatif, berbentuk spiral, sensitif terhadap pH, dan
merupakan mikroaerofilik yang terletak antara lapisan mukus dan
permukaan sel epitel lambung. HP berpengaruh pada kerusakan langsung
mukosa dan perubahan imunitas host.
NSAIDs atau obat anti inflamasi
non-steroid, menyebabkan kerusakan mukosa dengan 2 mekanisme, yaitu:
mengiritasi langsung pada epitel lambung dan menghambat pembentukan
prostaglandin. Prostaglandin berguna untuk mempertahankan mukosa
gastrointestinal.
Sebelum
dilakukan terapi penyembuhan tukak lambung maka perlu ditentukan
penatalaksanaan terapi yang meliputi sasaran terapi, tujuan terapi, dan
strategi terapi. Dalam terapi tukak lambung yang menjadi sasaran terapi
adalah menetralkan asam lambung, melindungi pertahanan mukosa, dan
membunuh HP (hal ini dilakukan jika tukak lambung disebabkan oleh
infeksi HP). Tujuan terapi tukak lambung adalah menyembuhkan
tukak, mencegah tukak kambuh, menghilangkan nyeri tukak, dan menghindari
terjadinya komplikasi. Strategi terapi untuk tukak lambung
meliputi terapi non-farmakologis dan farmakologis. Terapi
non-farmakologis dapat dilakukan dengan menghentikan penggunaan NSAIDs
dan obat-obat lain yang memiliki efek samping tukak lambung, menghindari
stress yang berlebihan, menghindari makanan dan minuman yang dapat
memperburuk gejala tukak lambung dan menjaga sanitas baik diri sendiri
maupun lingkungan.
Terapi farmakologi untuk tukak lambung :
1. H2 reseptor antagonis
Mekanisme kerja : mengurangi sekresi asam dengan cara memblok reseptor histamin dalam sel-sel parietal lambung.
Contoh : simetidin, ranitidin.
2. Proton pump inhibitor
Mekanisme kerja : mengontrol sekresi asam lambung dengan cara menghambat pompa proton yang mentranspor ion H+ keluar dari sel parietal lambung.
Contoh : omeprazol, lansoprazol, esomeprazol, pantoprazol, dan rabeprazol.
3. Bismuth chelate
Mekanisme kerja : membasmi organisme karena bersifat racun terhadap HP.
Kombinasi
bismuth dengan ranitidin yang dikenal sebagai ranitidin bismuth sitrat
jika dikombinasikan dengan 1 atau 2 antibiotik dapat ampuh membasmi HP.
Efek samping obat ini dapat terakumulasi pada pasien yang memiliki gangguan fungsi ginjal.
4. Sukralfat
Mekanisme
kerja : melindungi mukosa dengan cara membentuk gel yang sangat lengket
dan dapat melekat kuat pada dasar tukak sehingga menutupi tukak.
5. Antasida
Mekanisme kerja : menetralkan asam lambung dengan cara meningkatkan pH lumen lambung.
Obat ini hanya menetralkan asam lambung tetapi tidak dapat menyembuhkan tukak.
Contoh : Natrium bikarbonat, Mg(OH)2, Al(OH)3.
6. Misoprostol
Misoprostol merupakan analog prostaglandin yang mendukung penyembuhan tukak dengan menstimulasi mekanisme proteksi pada mukosa lambung dan menurunkan sekresi asam. Misoprostol digunakan pada pasien yang mengkonsumsi NSAIDs untuk mencegah timbulnya tukak.
7. Antibiotik
Antibiotik
digunakan untuk membasmi HP. Dalam pengobatan tukak lambung, antibiotik
yang digunakan biasanya kombinasi 2 antibiotik. Hal ini bertujuan untuk
menghindari resistensi antibiotik.
Contoh kombinasi antibiotik : klaritomisin-amoksisilin, klaritomisin-metronidazol, metronidazol-amoksisilin, metronidazol-tetrasiklin.
Dalam
menentukan pilihan obat untuk terapi farmakologis tukak lambung, perlu
dilakukan penyesuaian dengan mempertimbangkan sasaran terapi dan
faktor-faktor penyebab terjadinya tukak lambung. Misalnya: jika tukak lambung disebabkan karena infeksi HP maka dalam terapi digunakan obat golongan H2 reseptor antagonis atau proton pump inhibitor untuk
mengurangi sekresi asam lambung dan perlu ditambahkan antibiotik untuk
membasmi HP. Namun jika tukak lambung tidak disebabkan oleh HP maka
terapi tukak lambung tidak perlu menggunakan antibiotik, terapi yang
diberikan cukup dengan obat yang dapat menetralkan asam lambung atau
dengan obat yang dapat mengurangi sekresi asam lambung.
Obat
pilihan untuk terapi tukak lambung tanpa infeksi HP salah satunya yaitu
omeprazol, yang merupakan obat golongan proton pump inhibitor.
Nama generik : Omeprazol
Nama dagang : Protop®, Pumpitor®, Norsec®, Lambuzole®, Loklor®, Losec®, OMZ®, Prilos®, Socid®, Contral®, Dudencer®, Opm®, Onic®, Promezol®, Stomacer®, Prohibit®, Ulzol®, Zollocid®, Zepral®, Lokev®, Meisec®, Omevell®, Ozid®
Indikasi : Tukak lambung, tukak duodenum, tukak esofagus, refluk esofagus, sindrom Zollinger-Ellison, tukak yang resisten, pembasmian
HP saat dikombinasi dengan antibiotik, pendarahan gastrointestinal
bagian atas, tukak karena NSAIDs. Omeprazol digunakan untuk terapi
jangka pendek dan jangka panjang.
Kontraindikasi :
Pasien yang hipersensitif terhadap omeprasol, atau obat turunan
benzimidazol seperti lansoprazol, pantoprazol, esomeprazol, dan
rabeprazol.
Bentuk sedian dan kekuatan :
· Kapsul lepas lambat berisi granul bersalut enterik (10 mg, 20 mg, 40 mg).
· Tablet lepas lambat (20 mg).
Dosis
dan aturan pakai : 20-40 mg sekali sehari selama 4-8 minggu. Omeprazol
diminum 15-30 menit sebelum makan pagi. Tablet atau kapsul omeprazol
diminum dengan cara langsung ditelan menggunakan air. Jangan menguyah
atau menghancurkan tablet omeprazol dan jangan membuka kapsul omeprazol
karena obat ini didesain untuk lepas lambat.
Efek samping : Diare, sakit kepala, konstipasi, mual, muntah, nyeri perut, batuk, rasa letih, nyeri punggung, gejala flu, ruam kulit.
Resiko khusus :
· Anak usia < 18 th : nyeri kepala
· Wanita hamil :
terdapat laporan omeprazol menyebabkan kelainan kongenital pada bayi
yang dilahirkan oleh wanita yang mengkonsumsi omeprazol selama hamil.
Omeprazol diberikan pada wanita hamil apabila manfaat lebih besar
daripada resiko pada janin.
· Wanita menyusui :
omeprazol didistribusikan ke air susu maka sebaiknya omeprazol tidak
digunakan pada wanita menyusui, penggunaan omeprazol pada wanita
menyusui dapat diganti dengan obat golongan antasida.
· Pasien cirrhosis à : jumlah obat di dalam tubuh akan meningkat jika dibandingkan dengan pasien tanpa penyakit tambahan.
Pustaka
Berardi, R.R., dkk., 2004, Handbook of Nonprescreption Drugs, 14th ed., American Pharmacist Association, Washington.
Dollery, C.,1999, Therapeutic Drugs, 2nd ed., vol. 2 (I-Z), Churcill Livingstone, United Kingdom.
Dipiro, J.T., 1997, Pharmacotherapy : A Pathophysiologic Approach, 3rd ed., 629-646, A Simon and Schuster Company, USA.
Evoy, G.K.M., 2005, AHFS Drug Information, American Society of Health-System Pharmacists, USA.
Neal, M.J., 2005, At A Glance Farmakologi Medis, 5th ed., 30-31, diterjemahkan oleh Juwalita Surapsari, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar